Rabu, 30 Oktober 2019

PEMBUATAN MOL RUMEN

Bioindustri tidak identik dengan integrasi antara usaha tanaman dan usaha ternak, lebih dari itu bioindustri pertanian berkelanjutan juga melibatkan pemanfaatan jazad renik dan mikroorganisme. Mikroorganisme didalam usaha pertanian yang selama ini dimanfaatkan petani dalam proses dekomposisi dan fermentasi.


Produk decomposer/starter (misal EM4, Stardec, Probion, Bioplus, Biorument, MA 11 dan Orgadec) saat ini sudah banyak tersedia dipasaran. dengan bahan dan sumberdaya yang tersedia di sekitar petani, decomposer/starter sebenarnya dapat dibuat sendiri. Decomposer/starter buatan petani tersebut dikenal dengan Mikro Organisme Lokal (MOL). Salah satunya adalah MOL rumen.

Disebut MOL rumen karena menggunakan bahan baku utama rumen yang biasanya menjadi limbah pada saat pemotongan ternak ruminansia.

Rumen adalah salah satu bagian lambung ternak ruminansia (memamah biak) seperti sapi, kerbau, kambing dan domba. Didalam rumen ternak ruminansia hidup berbagai mikroba seperti bakteri, protozoa, fungi dan yeast. Mikroba ini berfungsi sebagai fermentor didalam rumen tersebut.

Bahan utama dalam pembuatan MOL rumen  adalah rumen sapi/kerbau/kambing/domba (5 kg) ditambah dengan bekatul padi (1-2 kg), tetes tebu/molases (1-2 liter), daun singkong/kelor (1-2 kg) dan air bersih (25 liter). Dari susunan bahan tersebut, akan diperoleh MOL sebanyak 20-22 liter. Bila diinginkan jumlah MOL lebih banyak, bahan yang digunakan dapat dilipatgandakan dengan tetap mengikuti proporsi tersebut.


Prosedur Pembuatan
Langkah pertama, daun singkong/kelor dibersihkan, kemudian dirajang dan ditumbuk atau diblender. selanjutnya masukkan dau singkong/kelor yang telah hancur ke dalam drum plastik ukuran 60 liter (disesuaikan jumlah bahan). Setelah seluruh daun dimasukkan, rumen sapi juga dimasukkan ke dalam drum, aduk campuran kedua bahan tersebut hingga rata tanpa dicampur air.


Langkah selanjutnya adalah memasukkan seluruh bahan lainnya, yaitu berturut-turut bekatul padi, tetes tebu, dan air (5 liter) ke dalam drum. setelah seluruh bahan diaduk, langkah terakhir adalah menambahkan 20 liter air dan aduk kembali hingga rata.



Drum selanjutnya ditutup dan diklem. Bila perlu lapisi tutup dengan plastik hingga benar-benar tercipta kondisi anaerob. MOL rumen akan siap digunakan dalam 14 hari, pembuatan MOL rumen berhasil dengan diindikasikan hilangnya bau rumen.

Selamat mencoba, mari kita kembangkan pertanian berkelanjutan dengan pertanian organik.

Selasa, 29 Oktober 2019

PROFIL BPP KECAMATAN KEBONAGUNG TAHUN 2018

  Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Kebonagung sebelum berdiri pada Tahun 1997 pada saat itu BPP Kebonagung masih bergabung dengan BPP Eks Pembantu Bupati Pacitan. Bangunan Kantor BPP Kebonagung pada awal berdirinya bergabung di Kantor Kecamatan dan menyewa rumah sebagai Kantor BPP, pada tahun 2010 kantor BPP dibangun di atas tanah Desa Purwoasri Kecamatan Kebonagung dengan dengan sistim pinjam pakai dengan Perdes Desa Purwoasri di atas tanah 600 M2. BPP dibangun untuk menunjang pembangunan pertanian guna memenuhi kebutuhan pangan dan produksi pertanian terutama produksi padi.
Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kebonagung merupakan salah satu Unit Pelaksana Penyuluhan Pertanian yang berada di Wilayah III. UPT PPP Wilayah III berlokasi di Kecamatan Kebonagung dengan wilayah kerja juga berada di Kecamatan Kebonagung 

Adapun personel yang menjadi pimpinan Balai dan Penyuluhan Pertanian sejak mulai berdiri sampai saat ini sebagai berikut:
1.  Bapak Sukisno, SP sebagai Kepala Balai Penyuluhan Pertanian
2.  Bapak Suprapto, SP sebagai Kepala Balai Penyuluhan Pertanian
3.  Ibu Suwarsi, SP  sebagai Kepala Cabang Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan
4.  Bapak Ir. Agus Riyadi  sebagai Kepala UPT Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan.
5. Bapak Ir. Agus Riyadi  sebagai Kepala UPT Pelaksana Penyuluhan Pertanian  Wilayah III hingga sekarang.

Dalam menjalankan kegiatan penyuluhan pertanian Kepala UPT dibantu oleh kelompok fungsional yang terdiri atas tenaga fungsional PNS sejumlah 5 orang, 5 orang Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian (THLTBPP) dan  4 orang penyuluh swadaya.

Wilayah kerja Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Kebonagung mempunyai ketinggian 0 sampai 550 m dari permukaan laut. Secara garis besar wilayah Kebonagung berbukit-bukit. Adapun jenis tanah di wilayah Kebonagung adalah tanah sawah seluas 1.750 Ha dan tanah kering 10.732 Ha. Lahan sawah di wilayah BPP Kebonagung berupa sawah irigasi teknis/semi teknis, irigasi sederhana dan sawah tadah hujan. Adapan lahan kering diperuntukkan untuk bangunan, tegal/kebun, perkebunan rakyat, hutan rakyat dan lahan lain.

Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Kebonagung memiliki 19 desa binaan. Yakni Plumbungan, Karangnongko, Kalipelus, Katipugal, Klesem, Sidomulyo, Worawari, Mantren, Gawang, Karanganyar, Kebonagung, Purwoasri, Banjarjo, Gembuk, Sanggrahan, Punjung, Wonogondo, Ketepung dan Ketro. Desa-desa ini terbagi menjadi 10 WKPP.

Pembentukan kelompok tani di wilayah Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan di dasarkan pada wilayah dusun. Di Kecamatan Kebonagung terdiri atas 134 kelompok tani yang ada yang terdiri dari Kelas Kelompok Tani Pemula sebanyak 0 Kelompok Tani, Kelas Kelompok Tani Lanjut sebanyak 102 Kelompok Tani, Kelas Kelompok Tani Madya sebanyak 31 Kelompok Tani dan Kelas Kelompok Tani Utama 1 Kelompok Tani.